Home / ARTIKEL / Pengacara Pejuang Integrasi

Pengacara Pejuang Integrasi

Obsesinya agar Timor Timur kembali ke pangkuan Indonesia tak pernah padam. Carlos adalah pejuang integrasi sejati. Pada usia yang masih sangat belia, 9 tahun, Carlos sudah memanggul senjata. Bersama ratusan remaja Timor Timur  lainnya, Carlos diindoktrinasi agar membenci TNI/Polri dan semua hal yang berbau Indonesia.

Carlos yang bergabung ke dalam tentara Fretilin menjelajahi hutan-hutan belukar Timtim, bergerilya rnelawan TNT. Sampai pada suatu hari (tahun 1980) terjadi kontak senjata antara gerilyawan Fretilin dan TNI. Carlos belia ditangkap Batalyon 745. Selanjutnya ia dijadikan anggota Tugas Bantuan Operasi (TBO) oleh Sersan Kasno dan Batalyon 201.

Setelah ditangkap, Carlos dibawa ke barak. Di situlah Pak Kasno mendidik dan membimbingnya. Pak Kasno merupakan orang yang paling berjasa dalam kehidupan Carlos. Dia diajari menulis dan membaca dalam bahasa Indonesia. Sebab, Jose Carlos Pherez Grero yang lahir di Los Palos April 1971, sama sekali buta huruf.

Dia lahir dan pasangan ayah Porto dan ibu asli Timtim. Dua saudaranya menetap di Dili. Namun dia dan adikya yang jadi tentara, memilih kewarganegaraan Indonesia. Lantas Carlos diasuh Letkol Emen Akmaluddin setelah Pak Kasno mengakhiri masa dinasnya di Timtim. Pak Emen membawa Carlos ke Surabaya dan dimasukkanke sekolah dasar di sana.

Sayangnya, Pak Emen meninggal tahun1983, Carlos pun jadi sebatang kara. Namun dia tak berhenti bersekolah. Dia sekolah sambil kerja. Di Surabayalah Carlos meraih sarjana komputer. Carlos sebenarnya sudah mengenal (sekarang) Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Ryamizard Re sejak di Timtim. Perjumpaan mereka kembali terjadi di Surabaya, ketika Ryamizard menjahat Pangdam Brawijaya.

Dia mereka menjalin persahabatan Sejak sekolah di Surabaya, Carlos sudah merasa jadi bagian dan bangsa Indonesia. Hatinya sudab terpantri dan tak akan ada jalan kembali. Dia merasa orang-orang Indonesia yang dikenalnya sangat berjasa dan baik kepadanya. “Saya dididik dan nol dan meraih dua gelar sarjana,” kata Carlos kepada Garda.

Carlos menyandang gelar Sarjana Computer dan Sarjana Hukum, modal utamanya untuk jadi pengacara dan Konsultan Hukum.

Sebagai anak pertama, la menjadi panutan keempat adiknya. Apalagi orang tua mereka sudah meninggal dunia. Dia pun bersyukur karena adik-adiknya memiliki satu pandangan dengan dirinya mengenai Timtim.

Timtim akan kembali

Sebagai orang Timtim, Carlos menyadari betul perbedaan Timtim sekarang dengan Timtim yang dulú di saat masih menjadli bagian dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kata Carlos. Kalau ada anggapan bahwa Portugis lebih baik daripada yang dilakukan Indonesia, dia sangat menyangkalnya dengan fakta-fakta,terutama yang dia alami sendiri.

Timtim saat ini dikuasai oleh orang-orang asing seperti zaman penjajahan Portugal dulu. Diskriminasi terhadap rakyat Timtim asli terjadi di mana-mana. Padahal dulu, rakyat Timtim selalu diberi fasifitas dan prioritas oleh pemerintah RI.

Pemuda pemuda Timtim bisa melanjutkan kuliah gratis dan mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Karena itu, dia mengingatkan orang-orang Timtim. baik yang ada di dalam atau di luar Indonesia, bahwa mereka selama ini telah dibutakan oleh isu-isu politik dan iming-iming kedudukan. Kata Carlos, itu sebenarnya hanya janji-janji yang mempropagandakan orang-orang Timtim saling berbenturan yang mengarah ke perang saudara. Kata Carlos, percayalah, masalah Timtim belum selesai.

Sebab masalah Timtim hanya bisa diselesaikan oleh orang Timtim, bukan oleh PBB. Alasannya, yang tahu karakter dan sifat orang Timor adalah orang Timor sendiri. “Saya ingin membuktilcan kebenaran yang telah diperbuat Indonesia. Saya inginkan Timtim kembali ke pangkuan Indonesia,” kata Carlos. Ia yakin, suatu saat Timtim akan kembali ke pangkuan NKRI.

Seiring berjalannya waktu, rakyat Timtim akan menyadari bahwa perpisahan dengan Indonesia hanya mendatangkan penderitaan belaka. Saat ini, menurut Carlos, gejolak-gejolak ketidakpuasan atas pemerintah Timtim mulai mengemuka. Hal itu akan mengkristal dan rakyat Timtim akan menuntut untuk kembali bersatu dengan NKRI. Namun, Carlos juga mengimbau kepada para putera Timtim yang ada di wilayah NKRI untuk menyatukan visi dan berani mengungkapkan kebenaran mengenai kondisi Timtim yang sekarang.

Dalam rentetan perjalanan disintegmsi Timtim, ada satu hal yang disoroti Carlos, yakni diselenggarakannya pengadilan HAM adhoc mengenai pelanggaran HAM berat di Timtim.

Beberapa perwira TNl menjadi tedakwa, juga seorang tokoh pejuang pro integrasi yakni Bunco Gutteres yang kini mesti menjalani hari-harinya di penjara Padahal, di mata rakyat Tlmtim pro integrasi dan rakyat lndonesia,ia adalah seorang pahiawan.

Menurut Carlos, pengadilan HAM itu Hasil desakan pihak asing terhadap pemerintah Indonesa Apalagi UU yang dipakai terkesan memaksa karena memakai asas retroaktif, yakni berlaku mundur.

Namun di sisi lain, Carlos menilai pengadilan HAM itu dibentuk untuk melindungi para terdakwa dan ancaman pengadilan HAM internasional. “Jika mereka diadili di pengadilan internasional, hukumnya mungkin lebih berat. Bisa saja hukuman mati,” katanya. Sedangkan,jlka mereka menjalani hukuman di Indonesia, mereka masih diperhatilcan hak-haknya sebagai wanganegara Indonesia, hukumannya tidak terlalu lama dan masih bisa ditengok keluarga.

Meski demikian,menurut Carlos,mestinya pengadilan HAM adhoc sama sekali tidak perlu diadakan dan Indonesia juga harus berani memperjuangkan agar tangan-tangan pengadilan internasional tidak turut campur Membela yang tertindas Carlos menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Asyafyah tahun 2002 sebagai lulusan terbaik.

Judul skripsinya, “Konsepsi TNl Dalam Penegakan Hukum dan HAM”, dengan studi kasus eks provinsi Timtim. Tidak lama setelah meraih gelar sarjana hukum (5H), Carlos bersama rekan-rekannya membuka praktik pengacara dan konsultasi hukum. Dia termotivasi jadi pengacara setelah melakukan konsultasi dengan sejumlah pengacara senior. Carlos mendapat pelajaran baru, bahwa yang dibutuhkan pengacara saat ini,bukan hanya kepintaran, tetapi juga keberanian.

Kata Carlos banyak perkara Indonesia melibatkan para konglomerat. Mereka biasa hidup enak dan mewah dengan mengisap keringat dan darah rakyat. Sampai saat ini belum ada pengacara yang berani bicara lantang melawan mereka.

Carlos sendiri mengalami hal itu. Setelah Memenangkan perkara, tinggal menunggu eksekusi. Namun eksekusinya masih sulit dilaksanakan, karena kuatnya pengaruh lawan perkaranya, seorang konglomerat. Diakuinya, profesi pengacara semakin diminati para lulusan fakultas hukum saat ini karena anggapan bisa menghasilkan uang banyak. Hal itu dibenarkan Carlos, namun juga ditekankannya bahwa profesi ini penuh dengan jebakan.

“Iman harus kuat,”ujannya. Menurutnya, Banyak pengacara yang menghalalkan segala cara asal bisa menang, karena diiming- imingi materi yang tidak sedikit oleh kliennya. Akhirnya, konsep menegakkan kebenaran menjadi kabur. Karena klien yang nyata bersalah pun dibuat seolah tidak bersalah. Padahal hakekatnya profesi pengacara itu bukan membela membabi buta, melainkan menjaga agar prosedur hukum berjalan sesuai aturan.

Carlos sendiri mempunyai prinsip yang teguh dalam hal ini. Dia selalu memprioritaskan kasus-kasus yang melibatkan orang kecil dan tertindas. Dia tidak mempermasalahkan biaya. Kadang-kadang malah keluar dan kantong sendiri. Jika kasus itu berhasil dimenangkan, baru ada perhitungan success fee.

Kasus besar yang tengah ditanganinya saat ini adalah kasus Musica Studio. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah mengabulkan gugatan kliennya, Soetoko Kalbuadi, sebagai pemilik sah Musica Studio Yang selama ini dikuasai Lanny Djayanegara Meski pihak Lanny mengajukan banding, atas putusan itu PN Jakarta Selatan telah mengeluarkan perintah sita jaminan atas tanah dan bangunan Musica Studio di Jalan Pancoran Timun No.3, Jakarta Selatan. Tampaknya, kasus itu masib akan berproses panjang.

Kali ini, giliran Klien Carlos yang mengajukan tuntutan pidana Terhadap pihak Lanny dengan delik penipuandan pemalsuan dokumen. Dia optimis akan berhasil memenangkan Kasus pidana ini Sejumlah saksi sudah disiapkan Saat ini, prosesnya masih di kepolisian danPemeriksaan terhadap para pihak dan saksi Tengah berlangsung.

Saksi-saksi dan pihak Carlos antara lain para penyanyi senior yang Pernah rekaman dimasa-masa awal berdirinya Musica,yang dulu bernama Metropolitan Studio. Mereka mengetahui bahwa studio itu Memang milik Klien Carlos. Malah, almarhum Bing Slamet pernah termasuk dalam jajaran pimpinan di masa itu. Sayangnya, ketika Lanny mengambil alih, musisi kawakan itu diberhentikan. TG

GARDA No. 240/th. 18 Januari 2004

Baca Juga

HM Maftuh Basyuni, Sosok Pembawa Perubahan Penyelenggaraan Haji

Pembawa perubahan. Mungkin itu yang dapat disematkan pada sosok Menteri Agama periode 2004-2009, Haji Muhammad …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *