Home / REVIEW BUKU / ARBITER TUNGGAL

ARBITER TUNGGAL

“Baru pertama kali dalam perkara arbitase, arbiter mengundurkan diri di saat musyawarah majelis. Pengunduran diri arbiter seharusnya dilakukan sejak semula manakala ada conflict of interest, bukan pada saat selesai pemeriksaan.”

(Dr. Rico Pandeirot, S.H., LL.M.)

“UU Arbitrase dan APS melihat penunjukkan Arbiter oleh para pihak yang bersengketa dan penerimaan penunjukkan tersebut oleh Arbiter sebagai perjanjian perdata. Hal ini berarti, Arbiter terikat dan berkewajiban secara hukum untuk memberikan putusan yang jujur, adil, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku Pasal 17 huruf 2). Arbiter tidak dibenarkan untuk mengundurkan diri / resign sebelum fase / tahapan hingga putusan dilakukan dan diberikan kepada para pihak. Di Belanda, dalam hal terjadi pengunduran diri oleh Arbiter (baik minoritas maupun mayoritas), majelis arbitase berkewajiban untuk memastikan bahwa pengunduran diri tersebut tidak menjadi boomerang yang dapat “membahayakan posisi” atau “menurunkan nilai” dari putusan arbitrase yang dikeluarkan. Kewajiban yang sama (atau porsinya bahkan lebih berat) juga berlaku bagi Arbiter yang mengundurkan diri, dimana yang bersangkutan harus memastikan bahwa pengunduran dirinya tidak berimplikasi negatif untuk putusan arbritase, maupun bagi para pihak yang bersengketa.

Para pakar arbritase berpendapat bahwa pengunduran diri arbriter dapat dikategorikan sebagai pelanggaran prinsip party autonomy, prinsip due process of law, prinsip egual treatment of parties, dan prinsip eventual prohibition of even-numbered tribunal. Hukum arbitrase internasional melalui UNCITRAL Arbitration Rules (“UAR”), menyikapi masalah pengunduran diri Arbiter dengan cara membentuk “truncated tribunal” /majelis tersisa, yang artinya melanjutkan proses arbritase yang telah berlangsung,  dengan Arbiter yang masih ada (minus Arbiter yang mengundurkan diri). Mayoritas pakar-pakar arbritase internasional mendukung adanya “truncated tribunal” untuk mencegah terganggunya proses arbritase yang sedang berlangsung sehingga prinsip utama arbritase tetap terpenuhi, yakni mengedepankan prinisp hemat waktu, final, dan mengikat.”

(Tya Mariyun, S.H.,M.Kn., LL.M., Kandidat Doktor pada Curtin University, Perth, Australia)

Baca Juga

LEGAL WRITING ANTHOLOGY Volume 9

The legal writings published in this book is a compilation of Prof. O.C. Kaligis works …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *